Sabtu, 25 Julai 2009

Hari pertama dilapangan...

Pagi Jumaat kami mahasiswa Malaysia di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir & Hadith seramai 14 Muslimin dan 25 Muslimat berangkat ke Kecamatan Montasik untuk memulai program Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang bermula tanggal 24 Julai – 9 Sept 2009. Sekitar 40 minit, kami tiba di kantor (pejabat) Camat Kecamatan Montasik. Disitulah kami diberi sedikit taklimat dan majlis penyerahan secara rasmi kepada Bapak Kepala Desa.


Untuk memahami struktur masyarakat Aceh atau Indonesia secara umumnya, istilah ini perlu diketahui maknanya iaitu Provinsi ( Negeri ), Kabupaten ( Daerah ), Kecamatan ( Kawasan – bawah dari Kabupaten) dan Desa ( Kampung ). Di setiap provinsi ada seorang Gubernor ( di Malaysia adalah MB ). Di setiap Kabupaten ada seorang Bupati ( wakil rakyat / anggota legislative ) dari mana-mana partai yang menang pilihan raya di Kabupaten tersebut. Di setiap Kecamatan pula, ada Bapak Camat dan yang terakhir adalah Bapak Kepala Desa disetiap Desa. Yang ‘menjaga’ semua kepala desa di bawah kecamatan tersebut adalah Bapak Camat. Kemudian di dalam sebuah desa ada pula beberapa kawasan kecil lagi. Kalau di Felda di Malaysia disebut ‘blok’. Jadi setiap desa di Aceh atau Indonesia adanya ketua blok-blok yang disebut Bapak Kepala Lorong. Di setiap desa juga ada Ibu Kepala Desa dan ketua Belia. Semua mereka ini berada didalam struktur sesebuah desa termasuk Teugku Imam (Imam).


Jika berlaku tangkapan atau masalah jenayah yang berkaitan dengan hukuman Islam seperti berjudi, berzina atau khalwat atau minum arak, maka pihak yang menangkapnya iaitu Wilayatul Hisbah (WH) akan berbincang dengan Bapak Kepala Desa terlebih dahulu samada ingin menyerahkan penyelesaian diperingkat desa sahaja atau diserahkan sepenuhnya kepada WH.


Sampai di kantor Camat Kecamatan Montasik, kami mendengar ucapan dari Bapak Camat dan juga Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, Dr.Hj Shamsul Rijal, M.Ag. Kemudian kami dibawa oleh Bapak Kepala Desa ke desa masing-masing.


Di Montasik ada sekitar 39 buah desa yang terletak dibawah 3 mukim. Kami seramai 39 orang dipecahkan kepada 9 buah desa sahaja. Alhamdulillah, 9 desa ini berada di bawah satu mukim yang sama dan agak berdekatan. Di sebuah mukim ada sekitar 2-3 masjid sahaja, tetapi di setiap desa semuanya ada meunasah ( musholla ).


Hari ini kami solat Jumaat di masjid yang sama di Montasik yang merupakan pusat jama’ah tabligh di Aceh Darussalam. Rata-rata masjid di sini akan diadakan apa-apa pengajian kitab atau tazkirah terlebih dahulu sebelum azan Jumaat dilaungkan. Biasanya disetiap desa, selepas solat Juma’at akan diadakan pula kelas-kelas pengajian (kuliah) untuk kaum ibu. Kami dimaklumkan setiap kali Ramadhan, masjid ini akan dipenuhi oleh jamaah tabligh dari Malaysia, Thailand, Pakistan dan beberapa buah Negara lain. Bahkan saat ini, lebih dari 10,000 orang sedang berijtima’ tabligh di Jakarta untuk seluruh Indonesia.

9 buah desa tempat kami ‘bertugas’ adalah Desa Bak Cirih, Weubada, Warabo, Teubang Phui Baro, Teubang Phui Mesjid, Lamme Garot, Bira Lhok, Bira Cot dan Reudeup. Saya dihantar ke Desa Warabo.


Selepas solat Asar, kami pulang semula ke kampus kerana pada malamnya ada pertemuan mahasiswa Malaysia di IAIN Ar-Raniry yang jumlahnya melebihi 150 orang sekarang bersama Dato’ Ahmad Ya’akob, Tim.MB Kelantan, Dato’ Mohd Daud Iraqi ( Pengerusi KIAS), Dato’ Mohd Amar Nik Abdullah ( Exco Pendidikan Kelantan ), Pengarah Yayasan Kelantan Darul Naim (Yakin) dan beberapa orang yang lain.


InsyaAllah, pagi ini (Sabtu) , kami akan ke Kecamatan Montasik semula dan terus menetap disana. Dalam tempoh 3-4 hari ini, kami lebih kepada program ta’aruf sesama masyarakat desa masing-masing dan tokoh-tokoh di desa tersebut serta melakukan penelitian terlebih dahulu mengenai kondisi desa tersebut sebelum merencanakan apa-apa aktivitas. Masyarakat Aceh rata-rata bagus layanannya kepada tetamu apatah lagi jika mengetahui kita orang asing.


Rasanya, agak sulit untuk mengupdate blog di kawasan ini…:) InsyaAllah, saya usahakan.

2 ulasan:

نىك محمد حافظول berkata...

waa bestnya akhi... its a wonderful experience and adventure. u must be share with me when u came back to Malaysia, ok

hehehe

alfahmi berkata...

Salam kenal.. saya mahasiswa fakultas ushuluddin tahun masuk 2007, jurusan aqidah & filsafat :)

Ini sedikit informasi tambahan dari saya.

Bapak Kepala Lorong di Aceh (khususnya pedesaan) lebih dikenal dengan istilah Kepala Dusun. Dusun itu sendiri merupakan wilayah yang lebih kecil dalam sebuah desa (blok kalau di Malaysia).

Tadi Saudara telah menjelaskan Kecamatan dan Desa (dalam bahasa Aceh disebut Gampong, Kepala Desa bahasa Acehnya yaitu Pak Geuchik). Sebenarnya di antara Kecamatan dan Gampong ada satu wilayah administratif lagi, yang disebut dengan 'mukim'. Mukim ini merupakan kumpulan beberapa desa berdekatan di dalam kecamatan yang sama. Mukim dipimpin oleh Imeum Mukim (Imam Mukim).