Rabu, 9 September 2009

Sepak Terajang DENSUS 88

Sejurus selesai pengepungan lebih dari 17 jam yang berakhir dengan penembakan 2 individu yang didakwa sebagai anggota kelompok teroris yang diketuai oleh Noordin M.Top, akhirnya nama Detasemen Khusus 88 ( DENSUS 88 ) Anti Terorisme semakin terserlah dikenali dunia dan warga Indonesia khasnya.


Ketika singgah di sebuah toko buku di Banda Aceh beberapa hari lalu, sebuah buku berisi 164 halaman, berkulit merah dan mempunyai lebih dari 30 sumber rujukan menjadi perhatian saya. Penulisnya, Muhammad Ikhlas Thamrin yang merupakan salah seorang aktivis disebuah partai Islam di Indonesia meletakkan ‘ Densus 88 Undercover – Menyingkap Misteri Di Balik Kinerja Densus 88 Dalam Menangkap Para Tersangka Teroris’ sebagai judul bukunya yang diterbitkan pada November 2007.


Antara lain, beliau ‘membongkar’ secara ilmiah dan penuh dengan fakta serta maklumat hasil kajiannya beberapa tahun terhadap gerak kerja pasukan anti teroris di Indonesia yang dikenal sebagai Densus 88 ini. Turut didedahkan adalah sejarah tertubuhnya Densus 88 iaitu pasca Bom Bali 2002 dan selepas robohnya mercu tanda keagungan Amerika, WTC hasil bikinan mereka sendiri. Siapa dibelakang Densus 88 ini dan saranan dari siapakah yang membawa terbentuknya pasukan khas anti teroris ini disampaikan oleh penulis dengan penuh penelitian.


Paling penting, Muhammad Ikhlas Thamrin berusaha mendedahkan kepada public bagaimana gerak kerja yang dilakukan oleh Densus 88 ini dalam upaya memerangi terorisme, namun sebenarnya merekalah yang mewujudkan terorisme baru dengan mengenepikan profesionalisme dalam tugasan. Sejumlah catatan ditampilkan sebagai bukti betapa bermasalahnya pasukan ini sehingga terdapat mereka yang baru sahaja tersangka terlibat teroris, namun ditembak dihadapan anak-anaknya tanpa sempat berbicara, diculik diwaktu malam dari rumah dihadapan isteri dan anak-anak, dipaksa mengaku sesuatu yang tidak mereka lakukan, tangkapan tersangka teroris langsung tidak memerlukan kepada apa-apa surat ( persis SB melakukannya kepada tahanan ISA ), diseksa begitu dahsyat didalam tahanan dengan kuku dicabut, api rokok dicucuh ke badan, ditelanjangkan……..


Jelas, Hak Asasi Manusia (HAM) tiada lagi dalam ‘prosuder’ pasukan ini. Jika dilihat kepada Undang-Undang Dasar Indonesia, maka Densus 88 jelas telah melanggar pelbagai aturan-aturan tersebut. Jika dilihat kepada aturan Allah, Ya ! Mereka jelas menceroboh hak asasi dari Allah kepada manusia yang dibenarkan melakukan pembelaan diri jika menjadi tertuduh !


Bagi yang sukakan penelitian atau kajian mengenai isu-isu yang menimpa dunia khasnya dunia Islam, penulisan ilmiah Muhammad Ikhlas Thamrin yang sarat dengan pendedahan-pendedahan ini wajar dibaca. Tulisannya tidak terus terburu-buru menyerang Densus 88, namun dipenuhi dengan kritikan-kritikan membina agar pasukan ini benar-benar menjadi alat memerangi terorisme yang bekerja secara professional, melumpuhkan gerakan teroris tanpa bertindak menjadikan umat Islam sebagai sasaran serangan yang sengaja dibuat-buat dan yang terpenting, jangan sampai wujud dibelakang sana, ‘tangan-tangan ghaib’ yang berada dibelakang layar untuk memastikan Islam sebagai sasaran. Jika ianya berterusan, maka wajarlah individu seperti Ust Abu Bakar Ba’asyir dan ratusan umat Islam lainnya mendesak agar Densus 88 ini dibubarkan segera. Rekod jenayah Densus 88 terhadap umat Islam dalam tragedy Poso masih segar dalam ingatan mereka………..

2 ulasan:

hAmBa LeMaH berkata...

salam ziarah..=)

pitaloka berkata...

baru membaca sebagian dari buku ini, sudah menyadarkan saya, betapa Islam berusaha ditumbangkan secara perlahan-lahan...bahkan melalui tangan2 orang Islam sendiri...