Rabu, 17 Disember 2008

Batal Mou Al-Azhar: Lihatlah apa yang berlaku...

Dipetik dari http://www.detik.com/ - laman web Indonesia.

Berita : 1

Senin, 15/12/2008 19:26 WIB


Laporan dari Kuala Lumpur
Ingin Studi ke Al Azhar, 49 Mahasiswa RI Terlantar di Malaysia

Kuala Lumpur - Hasrat menuntut ilmu menggebu-gebu ke Timur Tengah, tapi malah terkatung-katung tanpa kepastian di negeri orang. Inilah kisah menyedihkan sekitar 49 calon mahasiswa asal berbagai daerah di Indonesia. Berencana mengais ilmu ke Universitas Al Azhar Mesir, tapi mereka malah terkatung-katung di Malaysia.

Para calon mahasiswa tersebut tertipu oleh agen pendidikan PT Fikruna Center, pimpinan seorang ustaz berinisial IJ di Jakarta. Agen pendidikan luar negeri yang beralamat di Gedung Graha Satria Lt. 5 Jalan Fatmawati Jakarta Selatan ini menjanjikan kepada mereka untuk dapat melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

Salah seorang calon mahasiswa, Lukman Hamdani (20) mengaku sudah mengeluarkan uang cukup banyak kepada agen pendidikan gadungan tersebut. "Saya sudah membayar uang Rp 12 juta ke rekening Fikruna Center. Mereka menjanjikan bisa membantu kami untuk studi di Al Azhar, Kairo Mesir," kata Lukman saat melaporkan penipuan tersebut kepada Atase Pendidikan Imran Hanafi dan staf SLO (Senior Liason Officer) Polri Kiki di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (15/12/2008).

Lukman datang bersama seorang kawannya yang juga menjadi korban, Maulana (20), serta didampingi juga oleh Ketua PPI Malaysia Irfan Syauqi Beik dan Sekjen PPI Malaysia Samheri. Lukman menceritakan, setelah mengikuti tes di Jakarta, para calon mahasiswa itu lalu dikirim Fikruna ke Malaysia untuk menjalani persiapan lanjutan sebelum studi ke Mesir. Di Malaysia, mereka diinapkan di Madiwa (Ma'had Al'Aaly Liddirosah Al Islamiyah Wal 'Arabiyah) di Perak.

"Tapi selama di sana, kami cuma belajar saja di surau. Tidak ada pendidikan formal dan kami tidak dapat kepastian. Selain itu, kami cuma makan, minum dan tidur," ungkap Lukman. 49 Calon mahasiswa tersebut berasal dari daerah yang berlainan dan gelombang rekrutmen yang berbeda. Namun sebagian besar dari mereka sudah terkatung-katung di Malaysia selama setahun.

Lukman dan Maulana diberangkatkan Fikruna pada 10 September 2007 dan dijanjikan berangkat ke Mesir antara September-Oktober 2008. "Tapi sampai sekarang kami masih di sini tanpa kejelasan. Sebagian kawan-kawan juga sudah ada yang balik lagi ke Indonesia karena mereka tidak tahan," imbuh pemuda asal Bekasi tersebut.

Menurut dia, sejak diinapkan di Madiwa, para calon mahasiswa itu terpencar. Bahkan sebagian besar mereka terpaksa mencari kerja untuk menutupi persediaan uang mereka yang menipis.

"Saya tidak tahu jumlahnya sekarang. Tapi yang saya kenal, yang masih ada di sini sekitar 15 orang saja. Tapi mereka berpencar semua. Tidak bisa balik, ya terpaksa cari kerja untuk bisa kumpul uang dan kuliah. Ada yang jaga kedai, cuci piring, pelayan restoran," ungkapnya. Bahkan, Maulana juga mengungkapkan, mereka diharuskan menyetorkan lagi uang sebesar RM 2.750 (sekitar Rp 9 juta) untuk Madiwa dan Aiport Tax.

"Setelah sampai di sini, kami dapat informasi kalau Fikruna berlepas tangan dan diserahkan kepada Madiwa," kata Maulana.

Maulana juga mengungkapkan, cara Fikruna menipu calon mahasiswa tersebut dengan menyebarkan brosur tentang kemudahan kuliah di Universitas Al Azhar Mesir kepada calon mahasiswa yang gagal mengikuti ujian di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mereka terobsesi dengan iming-imingan Fikruna yang mengatakan telah berhasil memberangkatkan calon mahasiswa sebelumnya ke Mesir.

Atase Pendidikan Imran justru heran jika ada lembaga pendidikan swasta yang membuat perjanjian dengan Universitas Al Azhar Mesir. Namun Imran berjanji membantu para calon mahasiswa tersebut. "Sebab setahu saya, yang ada adalah kesepakatan antara pemerintah RI dengan Universitas Al Azhar bahwa calon mahasiswa yang ingin studi di sana harus melalui tes di Departemen Agama. Tidak ada harus transit di Malaysia dulu," jelasnya.

Ketua PPI Malaysia Irfan Syauqi Beik meminta agar pemerintah mengusut tuntas kasus tersebut. "Apalagi ada indikasi jaringan penipuan yang sistematis. Jangan sampai ada korban lagi," cetus dia.
(rmd/asy)

Berita: 2

Selasa, 16/12/2008 19:13 WIB


PT Fikruna Bantah Telantarkan Calon Mahasiswa Al Azhar

Jakarta - PT Fikruna Center membantah telah melakukan penipuan dan menelantarkan sejumlah siswa asal Indonesia yang hendak studi ke Mesir di Malaysia. Perusahaan tersebut mengklaim telah melakukan prosedur berdasarkan MoU dengan pihak Madiwa (Ma'had Al'Aaly Liddirosah Al Islamiyah Wal 'Arabiyah) untuk mengirimkan siswa ke Universitas Al Azhar.

"Banyak yang tidak benar dalam pemberitaan media. Soal penipuan, kami tidak melakukan penipuan. Ada MoU antara Fikruna dengan Madiwa," ujar Mantan Direktur PT Fikruna Center Imam Jazuli kepada detikcom, Selasa (16/12/2008).

Imam mengungkapkan, dalam kesepakatan tersebut, PT Fikruna hanya bertugas mengirimkan siswa Indonesia ke Madiwa di Malaysia. Selanjutnya di negeri Petronas tersebut, tambah Imam, Madiwa yang bertanggung jawab terhadap para siswa tersebut.
Selama di Madiwa, menurut dia, para siswa tersebut akan mendapatkan training dan persiapan studi dengan mengikuti perkuliahan formal selama satu tahun.

"Di sana ada fakultas Syariah dan Ushuluddin. Jadi mereka tidak hanya makan tidur, tapi juga belajar. Meski secara fasilitas tidak sekualitas universitas," jelas dia. Dalam rilis yang diterima detikcom, Imam juga menjelaskan, niat pendirian PT Fikruna Center adalah untuk memfasilitasi siswa yang tidak lulus dalam tes seleksi ke Universitas Al Azhar melalui Departemen Agama.

"Sebagai lembaga yang juga mengirim langsung siswa ke Al Azhar merasa prihatin mengingat banyak siswa yang memiliki potensi dan motivasi yang tinggi tapi tidak dapat melanjutkan studi ke Al Azhar karena tidak lulus ujian seleksi, padahal dari beberapa siswa yang tidak lulus dikarenakan juga tidak mengetahui model dan metode ujian Depag. Karena itulah kami memiliki ide untuk mengadakan twining dengan Madiwa," cetus Imam.

Menurut Imam, Madiwa memiliki MoU dengan Universitas Al Azhar sudah sejak lama. Siswa yang telah lulus diploma 2 di Madiwa, lanjut dia, dapat langsung masuk Universitas Al Azhar tingkat 3 dan diploma 3 langsung masuk tingkat 4.

Pengiriman siswa oleh PT Fikruna ke Madiwa, kata dia, dimulai sejak 5 September 2006 dengan jumlah 24 siswa. Pengiriman kedua dilakukan pada 10 September 2007 sebanyak 24 siswa. Dari 24 siswa itu 18 siswa di antaranya sudah diberangkatkan ke Mesir dan diterima di Universitas Al Azhar tingkat 3 (untuk laki-laki) dan tingkat 2 (untuk perempuan). "Jadi yang kami lakukan sudah benar sesuai MoU. Kami tidak melakukan penipuan," pungkas Imam. (rmd/asy)

Berita: 3

Selasa, 16/12/2008 22:33 WIB


PT Fikruna: Mahasiswa Terlantar karena Kebijakan Pemerintah

Kuala Lumpur - 49 Siswa yang hendak studi ke Universitas Al Azhar disebut-sebut terkatung-katung di Malaysia. Sebagai agen, PT Fikruna Center beralasan hal itu disebabkan perubahan kebijakan pemerintah, baik Indonesia maupun
Malaysia.

"Kebijakan pemerintah Indonesia dan perubahan situasi politik di Malaysia yang sangat mempengaruhi," ujar mantan Direktur PT Fikruna Center Imam Jazuli dalam rilis kepada detikcom, Selasa (16/12/2008).Imam menjelaskan, pada April 2008 diadakan Workhop di mesir oleh pihak KBRI Kairo dan Departemen Agama bekerjasama dengan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir. Hasil workshop tersebut salah satunya rekomendasi penghentian pengiriman pelajar ke Universitas Al Azhar melalui Malaysia.

Bersamaan dengan itu, Imam melanjutkan, pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan muadalah (persamaan) terhadap 18 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) se-malaysia dengan Universitas Al Azhar. Dengan kebijakan tersebut, STAI-STAI di Malaysia tidak boleh lagi mengirim siswa ke Universitas Al Azhar. Pengiriman hanya berlaku terhadap PT-PT dibawah pemerintah.

"Akibatnya, kerjasama yang selama ini terbangun antara Universitas Al Azhar dengan ma'had-ma'had atau STAI-STAI di sana terputus. Termasuk kerjasama Madiwa dengan Al Azhar. Jadi posisi kami terjepit, sedangkan kami sudah mengirimkan siswa. Tidak mungkin tarik lagi," ungkapnya.

Bahkan master jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia ini menduga, kebijakan pemerintah negeri jiran tersebut terkait karena partai pemerintah merasa gerah disebabkan alumnus STAI Malaysia yang melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar banyak yang berpihak ke partai oposisi saat mereka pulang ke Malaysia.

Imam juga mengatakan, setelah kebijakan tersebut keluar, Madiwa terus mengusahakan melobi pihak Universitas Al Azhar. "Tapi gagal dan Madiwa
sudah menginformasikan ke siswa-siswa tanggal 23 September 2008 kalau upaya yang dilakukan untuk melobi Al Azhar gagal. Dari sinilah terjadi kegelisahan dan kesimpang siuran,"ungkapnya. Oleh sebab itu, kata Imam, Madiwa memberikan alternatif bagi siswa bisa melanjutkan ke UIN Riau dan KUIS (Kolej Universitas Islam Antarabangsa Selangor) Malayasia.

Sedangkan Fikruna memberikan solusi dengan membantu mereka pindah studi ke universitas-universitas Islam di Indonesia seperti Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Islam Nusantara (Uninus), "Sekarang ini ada 20-an lebih siswa tersebut telah melanjutkan studi di universitas di Indonesia. Sisanya masih ada 15 siswa lagi di Malaysia dengan harapan tahun depan mereka dapat melanjutkan studi ke Saudi Arabia sesuai yang dijanjikan pihak Madiwa," pungkas Imam.(rmd/ndr)