Khamis, 5 Ogos 2010

Konsep Hijrah Dalam Perspektif Al-Qur’an ( Vol 3 )

Catatan sejarah menunjukkan bahawa, perjalanan hijrah tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat sahaja. Bahkan lebih awal dari itu, ia telah dilakukan oleh rasul-rasul dan ummat sebelumnya. Antaranya adalah seperti berikut:


Hijrah Ummat Terdahulu


Ashabul Kahfi adalah contoh penting dari pelaksanaan ibadah hijrah yang dilakukan oleh umat terdahulu. Kisah mereka diabadikan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an pada Surah Al-Kahfi dari ayat ke-9 hingga ayat 26. Mereka adalah satu golongan anak muda yang beriman kepada Allah SWT. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa mereka hidup setelah Isa, sebagai orang Nasrani. Sebagian pula berpendapat bahwa mereka adalah kaum Muslim pengikut agama Isa, sedangkan pada masa itu raja mereka adalah penyembah berhala, yang menyeru mereka menyembah berhala. Diriwayatkan juga bahwa mereka adalah satu kaum dari anak cucu para bangsawan kota Daqyus, kerajaan kafir. Juga dinamakan Daqinus. Diriwayatkan bahwa mereka mengenakan tutup kepala dan gelang dari emas yang memiliki liontin. Mereka datang dari Romawi yang kemudian mengikuti agama Isa.


Lebih dari satu ahli tafsir, baik generasi terdahulu maupun generasi akhir yang menyebutkan bahwa mereka adalah anak keturunan raja-raja Romawi dan para pemimpin mereka. Ath-Thabari mengutip pendapat Ibnu Abbas bahwa, mereka berjumlah delapan orang. Maksimilina adalah yang terbesar di antara mereka dan dialah yang berbicara dengan raja. Kemudian Mahsimilina, Yamliha, Marthus, Kasythusy, Pirunus, Dinamus, Bathunus dan Qalush. Ibnu Kathir mengatakan bahwa, jumlah mereka adalah tujuh orang berdasarkan firman Allah SWT:


Artinya: Nanti (ada orang yang akan) mengatakan “(jumlah mereka) tiga (orang), yang keempat adalah anjingnya” dan (yang lain) mengatakan “(jumlah mereka) lima (orang), yang keenam adalah anjingnya” sebagai terkaan yang ghaib dan yang (yang lain lagi) mengatakan “(jumlah mereka) tujuh (orang), yang kedelapan adalah anjingnya”. (QS. Al-Kahfi: 22)


Hijrah para pemuda Ashabul Kahfi ini berawal dari penyaksian mereka terhadap amalan kaumnya yang menyembah berhala-berhala dan taghut serta menyembelih binatang ternak untuk dipersembahkan pada tuhan mereka pada hari besar agama mereka di pusat kota setiap satu tahun sekali di bawah pengarahan seorang raja yang kejam dan keji yaitu Dikyanus. Mereka menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya dengan bersujud kepada berhala sesungguhnya merupakan hak Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi. Mulailah satu demi satu dari mereka meninggalkan kaumnya dan menolak perbuatan mereka dan menentang mereka dalam hal itu. Orang yang pertama di antara mereka adalah duduk dibawah pohon rindang. Kemudian menyusul orang kedua yang turut duduk disana. Kemudian berdatangan yang selanjutnya. Mereka bukanlah orang yang saling mengenal, namun hati mereka yang menyebabkan mereka berkumpul dalam kumpulan iman.


Mereka berdiri dihadapan kaum mereka sambil mengumumkan ketauhidan dan berlepas diri dari kesyirikan yang dilakukan kaum mereka. Mereka berkata “Tuhan kami bukan Tuhan Fulan dan Fulan, tapi Dia Tuhan langit dan bumi. Dialah Raja, Pencipta dan pengatur langit dan bumi”. Para pemuda itu tidak peduli dengan sesiapa pun juga. Mereka seperti tukang-tukang sihir Fir’aun yang tidak peduli ancaman Fir’aun, mereka tetap teguh dengan kebenaran. Mereka meninggalkan kampung halaman mereka menuju ke sebuah gua. Dikatakan bahwa, lokasi gua itu berada di Gunung Ar-Raqim (dekat Amman, Yordan).Para ulama berbeda pendapat tentang letak gua itu. Kebanyakan mereka berkata “gua itu di bumi Ailah”. Dikatakan pula “gua itu lebih tepat di negeri Romawi”. Wallahua’lam.


Sedangkan tentang anjing (yang bersama mereka) diriwayatkan bahwa anjing itu adalah anjing berburu mereka milik mereka. Ibnu Abbas mengatakan bahwa, dalam perjalanan mereka berjumpa dengan seorang penggembala yang memiliki seekor anjing. Penggembala itu mengikuti mereka karena adanya kesesuaian dengan pendapat mereka. Para pemuda ini lalu ditidurkan oleh Allah SWT di dalam gua tersebut selama tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun Hilaliyah (Qamariyah). Sedangkan dalam hitungan Syamsiyah lamanya adalah tiga ratus tahun. Sebab, perbedaan antara setiap seratus tahun penanggalan Qamariyah dengan penanggalan Syamsiyah adalah tiga tahun. Karena itulah, Allah menyatakan “selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun”.


Mereka masing-masing bangkit dalam keadaan tertanya-tanya mengenai lama masa mereka tidur sehinggalah Allah SWT menjelaskan kepada mereka melalui manusia yang hidup pada zaman tersebut tentang keadaan diri mereka.


Setelah bangkit dari tidur, mereka mengutus salah seorang dari mereka dengan uang logamnya ke kota, yang dengannya agar membawakan makanan, namun keberadaannya dan juga dirhamnya tertolak karena telah kuno. Sehingga ia dibawa kepada raja yang yang ketika itu seorang yang shalih dan rakyat pun telah beriman. Ketika raja melihatnya, ia berkata “kiranya ini adalah para pemuda yang pergi di zaman raja Dikyanus. Aku telah berdoa kepada Allah, sudi kiranya menunjukkan mereka kepadaku”. Akhirnya mereka bersama-sama berangkat ke gua. Kebanyakan riwayat mengatakan bahwa mereka meninggal dunia ketika diajak berbicara oleh Tamlikha, teman mereka yang kembali dari kota bersama raja yang beriman ini.


Hijrah Para Nabi


Antaranya adalah seperti berikut:


1) Nabi Ibrahim


Berikut adalah tempat-tempat penghijrahan Nabi Ibrahim Alaihissalam:

a) Hijrah dari Babilonia menuju ke Syam (Syria) dan Palestina.

b) Hijrah ke Mesir

c) Hijrah dari Mesir kembali ke Syam

d) Hijrah ke bumi Mekah dan membangun Baitullah


2) Nabi Luth


Berikut adalah tempat-tempat penghijrahan Nabi Luth ‘Alaihissalam:

a) Hijrah ke Syam bersama bapa saudaranya Nabi Ibrahim

b) Hijrah ke Sadum (sekitar Jordan)


3) Nabi Musa


Berikut adalah tempat-tempat penghijrahan Nabi Musa Alaihissalam:

a) Dari Mesir ke Madyan

b) Dari Madyan kembali ke Mesir

c) Dari Mesir ke Syam (Palestin)


4) Nabi Muhammad


Berikut adalah tempat-tempat penghijaran Nabi Muhammad dan para sahabat:


a) Hijrah ke Habsyah kali pertama – Bulan Rejab Tahun ke-5 Nubuwwah (Kenabian) dengan jumlah 15 orang iaitu 10 lelaki dan 5 perempuan. Nabi tidak sertai.


b) Hijrah ke Habsyah kali kedua – Bulan Syawal Tahun ke-5 Nubuwwah (Kenabian). Jumlah mereka 83 lelaki dan 19 perempuan. Ketua rombongan adalah Ja’afar bin Abi Talib. Nabi tidak sertai.


c) Hijrah ke Ta’if – Rasulullah keluar berdakwah di Ta’if selama 10 hari bersama Zaid bin Harithah. Tiada yang menerima Islam kecuali seorang hamba iaitu Addas (seorang Nasrani), hamba kepada Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Hijrah ke Ta’if berlaku selepas tahun ke-10 Nubuwwah.


d) Hijrah ke Madinah – Para sahabat keluar secara kelompok-kelompok kecil bermula dari bulan Muharram dan Rasulullah SAW keluar bersama Abu Bakar pada hari Khamis, 1 Rabi’ul Awwal ketika berumur 53 tahun.


Hijrah berterusan selepas itu, dilakukan oleh para sahabat, para ulama’, imam-imam mazhab dan berkelanjutan sampai saat ini dengan pelbagai tujuan baik melaksanakan urusan dakwah, menuntut ilmu, berjihad dan sebagainya.