Jumaat, 15 Mei 2009

Khutbahlah Isu Yang Sedang Menimpa Ummah Pula !

Sebelum solat Juma’at hampir di semua masjid di Aceh, kebiasaannya ada 4 pengumuman yang akan disampaikan oleh urusetia masjid:

1) a)Jumlah kewangan terkini masjid, termasuk wang yang disumbang oleh mana-mana hamba Allah terus ke tangan pihak pengurusan masjid juga dinyatakan jumlahnya.

2) b)Mereka yang bertugas pada hari tersebut iaitu bilal, khatib dan imam Jumaat.

3) c)Pengumuman agar ahli jema’ah menggerakkan tabung

4) d)Pengumuman agar ahli jema’ah me’non-aktif’kan handphone..:)

Jika di Masjid besar seperti Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, ada sebuah pengumuman lagi: pengumuman solat jenazah untuk beberapa orang individu yang telah meninggal dunia pada hari itu atau telah beberapa hari sebelumnya disekitar Banda Aceh. Ianya adalah permintaan pihak waris si mati kepada pihak masjid..Ya, itulah kondisi Jumaat di Aceh. Biasa sahaja kan?

Hanya satu yang saya kira amat membanggakan. Rata-rata khatib tidak membaca khutbah menggunakan teks yang disediakan oleh pihak pemerintah. Rasanya memang tidak disediakan. Maka, khutbah mereka sangat hidup. Isinya benar-benar menyentuh permasalah yang berlaku kepada masyarakat. Jika masyarakatnya bermasalah dalam soal solat berjama’ah, maka minggu itu, inilah tajuk yang dikhutbahkan. Jika masalah judi dan akhlak anak-anak makin parah, maka itulah isi khutbah hari tersebut.

Jika mendengar khutbah-khutbah di Aceh, tentu orang Malaysia akan menyebutnya ‘Kuliah Maghrib’. Santai sekali. Kelihatan tidak rasmi. Tetapi, tumpuan ahli jema’ah sangat membanggakan tidak seperti disebahagian besar tempat di Malaysia. Maaf ya, saya pun orang sana juga sih…

Kadang-kadang, khutbah sudah sangat bagus, tegas, jelas dan lantang, namun isu yang dibawa pula sangat mengecewakan. Ada pula isi yang bagus, sesuai dengan kondisi semasa yang sedang menimpa ummah, namun khatibnya pula yang berjaya menidurkan para makmum.

Walaupun dahulu ada beberapa pihak yang mendesak agar jangan ‘baca khutbah’ , tetapi ‘berkhutbah’. Maksudnya, jangan terikat dengan membaca teks. Secara peribadi, saya kurang bersetuju idea ini. Mungkin di Bandar-bandar besar yang khatibnya memang baik, berilmu tinggi, hebat pidatonya, maka bagi khatib sebegini sangat wajar dan tidak bermasalah mereka yang mengarang teks khutbah tersebut. Namun, bagaimana pula dengan imam-imam dikampung? Mampukah mereka. Mungkin ada, tetapi peratusannya terlalu kecil.

Maka, paling kurang, cukuplah jika setiap Jabatan Agama Islam atau Majlis Agama Islam disetiap negeri yang menyediakan khutbah atau meminta mana-mana pihak yang mampu menyediakan khutbah. Khutbah itu yang diedar disetiap daerah atau kawasan dinegeri tersebut yang isinya perlulah memberi keutamaan terhadap permasalahan ummah terlebih dahulu yang sedang berlaku, akhlak ummah, kebangkitan ummah, serangan kuffar dan seumpamanya. Maka, beri keizinan juga kepada khatib untuk menambah sedikit isi khutbah tersebut yang mungkin ada permasalah yang berbentuk kedaerahan atau dikawasan tersebut yang berlaku dan perlu disampaikan.

Cukuplah dengan menyediakan khutbah-khutbah yang hanya mengampu pemerintah dengan cara mengajak makmum bersyukur kepada kerajaan atas nikmat yang diberi. Wah…macam tuhan ya.

Jika hari ini, waba’ flu babi merebak luas, maka bicarakan ia diminbar-minbar dan kaitkan ianya dengan peringatan Allah dan Nabi tentang akhir zaman, bukan hanya membicarakan soal perlunya menjaga kesihatan atau perlu ke pejabat memakai topeng menutup hidung. Ajaklah makmum supaya meninggalkan mungkar pula. Seringkali masalah mungkar ingin dihapuskan dari terkait dengan azab Allah. Inilah idea secular dan rasionalis dimana-mana.

Bagi saya juga, khutbah Juma’at bukan lagi medan atau platform berbentuk ‘mengajar’. Contohnya, khutbah Juma’at digunakan untuk menerangkan secara terperinci apa jenis-jenis zakat, berapa yang perlu dikeluarkan , puasa dan perkara yang membatalkan puasa dan sebagainya. Cukuplah melalui pengajian-pengajian di waktu Subuh atau Maghrib di masjid. Namun, yang perlu dibangkitkan di ruang khutbah, mungkin lebih kepada laungan agar pendengar mengeluarkan zakat, menunaikan puasa, permasalah meninggalkan kewajipan ini, sebab, akibat dosa dan seumpamanya.

Maka, manfaatkan medan khutbah sebagai sarana terbaik untuk mendekatkan ummah kepada Islam, membangkitkan kesedaran dan kecintaan beragama, menimbulkan rasa juang yang tinggi. Jika tidak, ia hanya menjadi majlis pertemuan mingguan yang sangat tidak berarti.

Sekadar pandanganku..Wallahua’lam.

Respon pembaca pada artikel 'ancaman Islam Liberal'

Gara-gara menulis sebuah artikel bertajuk ‘ancaman Islam Liberal’ di http://arruhuljadid86.blogspot.com/2008/10/ancaman-islam-liberal-1-jaringan-islam.html pada bulan Oktober 2008 yang lalu yang isinya berbentuk ulasan terhadap perlecehan system khilafah oleh JIL dalam sebuah rancangan televisyen, tanggal 03 Mei 2009 baru-baru ini , saya dikirim sebuah email. Penghantarnya hanya menggunakan nama

Dear Saudara,

Saya sudah membaca tulisan dalam blog anda pada link di atas. Ada beberapa point ketidaksetujuan saya atas tulisan tersebut.

Pertama mengenai JIL dan Hizbut Tahrir. Perlu dipahami bahwa mayoritas masyarakat Muslim di Indonesia adalah tipikal Muslim yang moderat, walau cukup religius namun tidak sampai taraf radikal. Hal ini dibuktikan berulang-ulang dalam pemilihan umum (kita ambil sampel Pemilu Indonesia era reformasi), yang tidak pernah memenangkan partai berbasis Islam sama-sekali. Partai-partai Islam terpecah belah dan kehilangan suaranya. Walaupun di beberapa daerah mengalami peningkatan suara, namun secara nasional partai-partai Islam tidak mendapat dukungan publik. Hal ini juga terjadi pada partai-partai berbasis agama lainnya, seperti PDS (Partai Kristen) yang mendapatkan suara hanya sedikit pada pemilu 9 April lalu, dibandingkan dengan persentasi umat Kristen di Indonesia yang sebenarnya jauh lebih banyak dari para pemilih PDS.

Bisa dipahami di sini, bahwa untuk partai politik berbasis Islam saja umat Muslim Indonesia enggan, apalagi untuk ide-ide utopis Hizbut Tahrir mengenai Khilafah? Ya, Hizbut Tahrir adalah kelompok yang sangat minoritas di Indonesia, dan tidak mewakili karakteristik Muslim Indonesia yang cenderung sekuler. Organisasi Islam di Indonesia yang cenderung keras semacam FPI (Front Pembela Islam) juga sebenarnya tidak mendapatkan dukungan ideologis dari mayoritas masyarakat Indonesia. FPI lebih dikenal di masyarakat dibandingkan Hizbut Tahrir, karena FPI kerap kali melakukan aksi-aksi kekerasan mengatasnamakan Islam dan “amar ma’ruf nahi munkar” serta seringkali bentrok dengan warga sekitar. Baru-baru ini, ratusan laskar FPI masuk ke sebuah perkampungan penduduk di Jakarta dan “mengamuk” serta merobek-robek poster-poster undangan perayaan Maulid Nabi, hanya karena perayaan Maulid itu menghadirkan Gusdur, tokoh yang dibenci FPI.

Mengenai JIL, marilah kita lepas dulu nama organisasinya, yaitu JIL, dan memandang pokok-pokok idenya, yaitu semangat berislam yang toleran, liberal, dan kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi. JIL sebagai sebuah organisasi, tentu minoritas sekali. Namun sebagai “suatu pemikiran/penafsiran atas Islam yang liberal dan toleran”, maka ide-ide JIL sebenarnya diamini oleh banyak masyarakat Muslim Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyak sekali masyarakat Muslim Indonesia yang –sebagai contoh kecil- mengabaikan fatwa-fatwa MUI mengenai ini-itu yang cenderung bersifat sempit. Dan indikasi terbesarnya adalah, kecenderungan masyarakat Muslim Indonesia untuk memilih partai-partai sekuler-nasionalis daripada partai-partai berbasis agama pada momen pemilihan umum. Adapun segala kericuhan yang melibatkan “agama”, seperti demonstrasi rusuh pada perayaan hari lahir Pancasila 1 Juni tahun lalu, atau pembakaran aset-aset Ahmadiyah, hal itu justru hasil provokasi kelompok-kelompok Islam keras, dan bukan inisiatif dari kebanyakan warga Muslim. Kenapa? Apa buktinya? Ahmadiyah sudah ada di Indonesia dan berbaur dengan masyarakat selama puluhan tahun, dan tidak pernah ada gesekan berarti di masyarakat. Bahkan pada sekitar tahun 2003, waktu saya menghadiri acara Islamic Book Fair di Landmark Jl. Braga Bandung, stand buku-buku Ahmadiyah berdiri di tengah-tengah stand buku-buku Islam lainnya. Saya sempat berbincang-bincang dengan penjaga standnya, saya disambut baik dan diundang ke Masjidnya di Jl. Pahlawan, Bandung. Tetapi, kelompok garis keras ini seringkali masuk ke perkampungan dan memprovokasi warga melalui dakwah-dakwahnya di Masjid untuk membenci Ahmadiyah dan menciptakan kerusuhan.

Kedua, mengenai ide Khilafah Islam itu sendiri. Khilafah Islamiyah adalah ide yang super utopis dan sangat tidak realistis untuk diaplikasikan di jaman modern sekarang ini. Ide Khilafah Islam bercorak superioristis, dan oleh karenanya tidak ada alasan logis yang mendasari pendiriannya, kecuali alasan-alasan normatif Islam yang tentu tidak relevan dan tidak bisa diterima oleh kalangan non-Muslim. Saya pernah menuliskan opini singkat saya mengenai posisi non-Muslim dalam Khilafah dalam blog saya. Berikut tulisannya:

Posisi non-Muslim dalam Khilafah

By me

INI opini singkat saja untuk mencermati bagaimana kedudukan non-Muslim dalam konsep Khilafah Islam.

Keistimewaan demokrasi dibandingkan konsep lain, adalah bahwa demokrasi memandang setiap manusia secara egaliter tanpa ada pembedaan dalam hal-hal yang fundamental dan “sensitif” seperti ras atau agama. Demokrasi memberi tiap-tiap individu hak dan kewajiban sosial dan politik yang setara, yang kemudian nilai-nilai ini dituangkan dalam draft deklarasi universal HAM pada tahun 1948. Sebuah pandangan yang “fair” dalam menghadapi pluralitas manusia.

Namun, membaca artikel di situs Hizbut Tahrir tentang posisi non-Muslim (ahlu dzimmah) dalam Khilafah Islam, bayangan kita akan nilai-nilai kesetaraan derajat manusia menjadi redup. Konsep Khilafah Islam, secara mendasar, memberi pemisahan yang jelas kepada warga negara berdasarkan jenis keimanan. Yaitu kelompok Muslim dan non-Muslim. Secara logis, konsekwensi dari pemisahan tersebut adalah adanya pembedaan hak. Dan pembedaan hak yang dimaksud terlihat pada bidang politik.

Di sisi lain, ide Khilafah memang menawarkan perlindungan fisik, kebebasan beragama, dan perlakuan adil di mata hukum kepada non-Muslim, ini patut kita akui. Namun bentuk diskriminasi Khilafah terletak pada pelarangan bagi non-Muslim untuk menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan, seperti menjadi pemimpin atau penentu kebijakan negara. Partisipasi non-Muslim dalam bidang politik hanya diperbolehkan sebatas menjadi anggota Majelis Umat, untuk “sekedar” menyuarakan aspirasinya, atau mengkoreksi perlakuan Khalifah jika dirasa melenceng dari ideal ajaran Islam. Kurang lebih sebatas itulah kritik yang boleh diberikan kepada pemerintah oleh non-Muslim. Tidak boleh melontarkan opini atau kritik yang bersifat “subversif”, seperti mempertanyakan secara kritis ideologi Khilafah Islam, apalagi mempropagandakan ideologi lain. Ini jelas berbeda dengan apa yang diperoleh aktivis Hizbut Tahrir dalam lingkup negara demokrasi.

Di bidang militer, non-Muslim mendapatkan “hak istimewa” untuk tidak ikut wajib militer, namun diperbolehkan jika mereka memang menginginkannya. Hanya saja, non-Muslim tidak diperkenankan memegang posisi-posisi penting dalam kemiliteran. Lebih dari itu, jika negara Islam diserang dari luar, maka kaum Muslimin wajib membela mati-matian kaum sipil dzimmi yang berada di wilayah negara Islam. Atas semua “jasa” perlindungan itu, non-Muslim diberi kewajiban membayar jizyah tiap tahunnya, yang besarnya ditentukan oleh negara. Jizyah ini semacam “pengikat” bagi non-Muslim untuk dapat berada di wilayah negara Islam dengan aman.

Atas pembedaan hak-hak itu, non-Muslim jelas-jelas menjadi warga negara kelas dua yang harus tunduk dan patuh pada institusi kekhalifahan. Praktis, tidak boleh ada opini-opini dan sikap-sikap politis yang berseberangan dengan kekhalifahan Islam.

******

Dalam perspektif nilai-nilai modern, pembedaan warga negara berdasarkan agama adalah konsep primitif yang tidak relevan lagi dengan kondisi zaman sekarang. Aktivitas politik yang secara otomatis bersentuhan dengan publik yang plural, pada prinsipnya tidak bisa melibatkan “keyakinan teologis” yang bersifat pribadi dan relatif. Untuk menjadi seorang pemimpin yang adil dan bijak, tak ada hubungannya dengan kepenganutan terhadap teologi tertentu.

Perlindungan fisik, kebebasan beragama, dan perlakuan adil di mata hukum tidaklah cukup untuk “modal” menjadi manusia seutuhnya di era modern. Ada peningkatan “standar menjadi manusia”. Jika pada zaman-zaman kuno parameter pencapaian kesejahteraan manusia masih berkutat pada hal-hal yang bersifat fundamental seperti kemakmuran fisik, maka pada zaman modern standart pencapaian itu meningkat. Manusia modern membutuhkan “kemakmuran ideologis”, yang dalam hal ini diwujudkan dengan kebebasan mengemukakan ide atau pemikiran, dan terutama, “status sederajat” dengan individu lain. Pada sisi inilah konsep Khilafah nampak tidak peka dan sudah “merasa lengkap” hanya dengan memberi tawaran kemakmuran fisik dan keadilan hukum saja. Peningkatan standart ini, salah satunya didasari oleh kesadaran akan pluralitas manusia, baik pluralitas fisik-genetis maupun pluralitas pemikiran. Kesadaran akan pluralitas manusia dipicu oleh perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi. “Teknologi informasi”, ini sesuatu yang tidak ada di abad ke 7, inilah yang membedakan antara mindset manusia abad ke 7 dengan manusia abad ke 21.

Kita memang patut mengapresiasi tawaran perlindungan fisik, kebebasan beragama, dan perlakuan adil di mata hukum kepada non-Muslim dalam konsep Khilafah. Namun permasalahannya, tawaran tersebut tidaklah secara istimewa dimiliki oleh konsep Khilafah. Banyak konsep sekuler “buatan manusia”, juga menawarkan itu. Bedanya, jika Khilafah membagi dunia menjadi dua kubu “hitam putih” ; Muslim dan non-Muslim (baca: beriman dan kafir), maka demokrasi sebagai suatu konsep sekuler memandang semua manusia secara setara, yang memiliki hak dan kewajiban asasi yang sama. Demokrasi menyadari pluralitas manusia, serta menjadi wadah dan pemersatu bagi perbedaan itu. Kesetaraan derajat dalam demokrasi berlaku di semua bidang, tidak hanya ekonomi dan hukum, namun juga politik. Demokrasi memberikan tiap warganya hak-hak politik yang sama, tanpa membedakan latar belakang agama atau ras. Ini sesuatu yang tidak bisa diperoleh dalam konsep Khilafah. Dalam demokrasi, tiap manusia dapat merasa menjadi “manusia yang seutuhnya”, equal dengan yang lain, walau anda minoritas agama, suku, ras, atau pendapat. Ini adalah konsep yang fair dalam menghadapi pluralitas manusia.

Pendukung Khilafah harus sadar, di jaman modern mana ada yang mau berstatus “dzimmi”? Mana ada yang ingin menjadi warga negara nomor dua? Semua ingin berstatus “disamakan”, mendapatkan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang sama, tanpa pembedaan kesukuan atau agama. Menjadi non-Muslim dalam Khilafah Islam bagaikan hidup di sangkar emas. Makmur, physically protected, tapi pada esensinya “kelas dua”. Mau?

Baca juga:

“Roti” Demokrasi: Dinajiskan, Tapi Dijilat Juga

Hizbut Tahrir dan Kebebasan Berpendapat

“Cyber Dakwah” dan Mentalitas Umat

“Qui scribit, bis legit”

“Barang siapa menulis, ia membaca dua kali” (Pepatah Yunani)

Khamis, 14 Mei 2009

Ulama' jadi pilihan untuk jawatan Tim.Pres.

Keputusan undian pada jawatan Tim.Pres PAS yang penulis lakukan melalui blog ini bermula tanggal 03 Mei 2009 sehingga 12 Mei 2009.

Kategori

Bilangan Yang Memilih

Peratus

Ulama

20 pembaca

46 %

Profesional

10 pembaca

23 %

Ikut Keputusan Majlis Syura

16 pembaca

37 %

Tidak tahu

01 pembaca

02 %




Inilah pilihan pembaca blog ini dalam tempoh 10 hari tersebut. Jadi, nilailah sendiri. Wallahua’lam.

Selasa, 12 Mei 2009

Halal, haram, halal..kini haram di Perak.

Hari ini, MB Haram dari Pangkor diisytiharkan menjadi MB semula berikutan tindakan Mahkamah Rayuan membenarkan penangguhan keputusan dari Mahkamah Tinggi KL semalam. Y.A.B Nizar terpaksa meninggalkan pejabat semula setelah beberapa jam sahaja baru masuk.

Ketika saya menceritakan kepada seorang teman dari Indonesia mengenai kondisi di Perak semalam dan maklumat terbaru hari ini, lantas dia bertanya “

Loh, kok bisa jadi gitu sih? Semalam sudah naik, hari ini tukar pula?”.

Saya menjawab ringkas “ itulah mahkamah Negara saya …yang dikawal pemerintah”.

08 Julai 2009 : Pemilihan Umum Presiden & wakil Pres ( PILPRES )

Setelah seluruh rakyat Indonesia mengikuti Pemilu untuk memilih calon legislative tanggal 09 April 2009 yang lalu, akhirnya Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) yang bertugas sebagai pelaksana Pemilu mengeluarkan keputusan penuh kedudukan partai-partai yang berjaya ke parlimen seperti berikut :

Bil

Nama Partai

Jumlah suara

Peratus

1

Partai Demokrat

21,703,137

20.85 %

2

Partai Golongan Karya ( Golkar )

15,037,757

14.45 %

3

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P)

14,600,091

14.03 %

4

Partai Keadilan Sejahtera ( PKS )

08,206,955

07.88 %

5

Partai Amanat Nasional ( PAN )

06,254,580

06.01 %

6

Partai Persatuan Pembangunan

05,533,214

05.32 %

7

Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB )

05,146,122

04.94 %

8

Partai Gerakan Indonesia Raya ( Gerindra )

04,646,406

04.46 %

9

Partai Hati Nurani Rakyat ( Hanura )

03,922,870

03.77 %

Jumlah suara yang sah hanya 104,099,785 dan yang tidak sah sebanyak 17,488,581.

Mereka yang tidak keluar memilih dan menjadi golput ( golongan putih ) sebanyak 49,699,076 orang.

Tanggal 08 Julai 2009, sekali lagi rakyat Indonesia berhak memilih calon Presiden dan calon wakil Presiden ( timbalan ) Indonesia. Perkembangan terkini menunjukkan partai Golkar telah menaikkan nama ketuanya, Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan mereka berkoalisi dengan partai Hati Nurani Rakyat ( Hanura ) yang mengangkat ketua mereka, Wiranto sebagai calon wakil presiden. Bagi PDI-P, mereka tetap mengangkat Megawati sebagai calon presiden dan masih kurang jelas dengan partai mana mereka ingin berkoalisi walaupun desas desus mengatakan masih ada perbincangan dengan Demokrat.

Sumber: keputusan KPU 09 Mei 2009

Akhbar: Republika – 10 Mei 2009 – Ahad.

Isnin, 11 Mei 2009

Allahu Akbar ! Nizar Return ...

“ InsyaAllah , kita akan bertemu lagi nanti” begitulah lebih kurang pesan singkat Y.A.B Nizar dengan penuh keyakinan ketika berpelukan dengan pegawai-pegawai di pejabat MB sewaktu dihalau keluar awal Februari lalu. Air mata mereka mengalir disaat Nizar melangkah gagah meninggalkan pejabatnya menyusun langkah perjuangan.


Alhamdulillah, doa dan air mata rakyat Perak khasnya serta rakyat Malaysia amnya benar-benar didengari oleh Allah ditambah dengan doa mereka yang disepak terajang ketika hari pelantikan MB haram dan Sidang dun 7 Mei lalu oleh kuda tunggangan UMNO, iaitu pasukan pembuat huru-hara FRU dan samseng upahan. Jangan anggap Sivakumar yang diheret keluar umpama binatang tidak dipedulikan oleh Allah kerana dia bukan seorang Muslim.


Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur jam 4.00 petang tadi mengumumkan Nizar MB Perak yang sah.


Dengan segala hormatnya diminta kepada MB haram dari Pangkor untuk tinggalkan segera kerusi empuk yang anda rampas dengan cara yang begitu jahat dengan membelakangi undang-undang negeri Perak. Selamat tinggal Mamak Samseng !!!


“ apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan….maka bertasbihlah memuji Tuhanmu dan pohonlah ampun kepadaNya”

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar ! walillahil Hamd.


Tahniah kepada Y.A.B Nizar, seluruh pimpinan Pakatan Rakyat dan pendokong perjuangan Islam yang sabar menghadapi ujian selama ini.


Daripada: Saya.

3 Jenis Manusia di Majlis Ilmu..

Sekurang-kurangnya dalam majlis ilmu baik di masjid, bilik kuliah di kampus, dewan seminar atau apa sahaja, ada 3 jenis manusia dalam bab memberikan pertanyaan :


1) Bertanya kerana benar-benar tidak tahu – soalan diajukan kepada penceramah, pengkuliah dan sebagainya kerana dia benar-benar ingin mengetahui.


2) Bertanya sesuatu yang dia sudah tahu – soalan diajukan kepada penceramah, pengkuliah dan sebagainya kerana dia meyakini masih ada orang ( pendengar ) yang tidak mengetahui permasalahan itu bahkan tidak terfikir untuk bertanya. Maka, mudah-mudahan apabila penceramah atau pengkuliah menerangkan permasalahan itu, bisa memahamkan orang lain juga.


3) Bertanya untuk mengenakan orang – soalan diajukan untuk test power ilmu penceramah untuk melihat sejauhmana kemampuannya atau bertujuan untuk mengenakan mana-mana individu atau mana-mana kelompok dalam majlis ilmu tersebut. Contohnya : Ditanya soalan tentang perangai ‘kuat makan, kuat tidur, hisap rokok dan sebagainya’ bertujuan ingin menyakitkan mereka. ( Tetapi kalau sengaja ditanya secara umum dengan niat yang ikhlas untuk memperbaiki, itu dibenarkan. Yang penting keikhlasan ketika bertanya )


Jadi, pilihlah antara ketiga-tiga jenis tukang soal ini yang ingin anda terapkan pada diri anda sebagai ahlul ilmi. InsyaAllah.


Sekadar perkongsian…mudah-mudahan bermanfaat.

Ahad, 10 Mei 2009

Perkara yang dibahaskan oleh golongan Islam Liberal.

Dalam pemerhatian saya melalui pelbagai sumber, ada beberapa perkara atau bab-bab penting didalam Islam yang sering menjadi pertikaian dan perbahasan hangat dikalangan golongan Islam Liberal baik namanya Jaringan Islam Liberal ( JIL ) atau Sisters In Islam ( SIS ) atau kelompok feminisme atau pejuang hak asasi wanita yang terkenal dengan perjuangan gendernya dan lain-lain yang bergerak secara zahir atau berselindung dibalik apa-apa pertubuhan kebajikan, NGO-NGO dan sebagainya.


Antaranya adalah :


1) Poligami – isu yang dibangkitkan adalah :


a) Islam tidak adil kerana lelaki diberi hak berkahwin sehingga 4 , namun wanita tidak.

b) Mereka mengkritik beberapa kes yang berlaku yang melibatkan ketidakadilan dalam rumahtangga, penganiayaan dan seumpamanya yang berlaku kepada pengamal poligami.


Komen saya :


i) sekiranya perjuangan mereka untuk meletakkan semua hak antara lelaki dan wanita adalah sama, maka jika wanita diberi kahwin 4 juga, agak-agak apabila mendapat anak, kepada bapa yang manakah ingin di ‘bin’ kan?


ii) mengapa kes rumahtangga yang melibatkan ketidakadilan dan penganiayaan yang dilakukan oleh pengamal poligami hanya dilihat dari satu sudut sahaja? Kenapa tidak dikaji sejauhmana mereka itu berpoligami mengikut ketetapan Islam yang telah diajar oleh Rasulullah? Rata-rata yang berlaku adalah , orang yang mengamalkannya tidak mengikut kehendak Islam. Maka jangan menyerang syariat Islam, salahkan mereka yang tidak mengikut aturan poligami itu dengan baik.


2) Hak untuk melakukan perceraian.


3) Hak penjagaan anak ( bila berlaku perceraian ).


4) Pembahagian harta pusaka ( Fara’id ) – isu yang dibangkitkan adalah : mengapa lelaki memperolehi 2 bahagian tetapi wanita hanya 1 bahagian.


5) Hak menjadi ketua – isu yang dibangkitkan adalah :

a) mengapa wanita tidak boleh menjadi imam kepada lelaki, membaca khutbah, menjadi ketua Negara, membuat persembahan dikhalayak ramai dan sebagainya.


6) Hak bebas memilih agama bagi anak-anak umat Islam.


7) Di Indonesia : hak bebas berkahwin lelaki sama lelaki dan perempuan sama perempuan diperjuangkan oleh pengikut JIL.


8) Hak berkahwin berlainan agama.


9) Mengapa aurat wanita Islam lebih banyak daripada aurat lelaki Islam.


10) Soal pemerintahan Negara dan sebagainya.


Apabila banyak perkara-perkara dalam Islam yang bagi mereka terlalu melebihkan kaum lelaki, akhirnya timbullah sebuah teori “adakah Allah itu lelaki?”. Inilah bahayanya apabila isi kandungan Islam dirasionalkan menggunakan akal semata-mata tanpa melihat soal fitrah manusia, pengetahuan Allah, kelemahan akal kita dan sebagainya.


Walaupun kebanyakan isu-isu yang dibangkitkan ini sebahagian besarnya berkaitan bidang Syariah, namun dalam kondisi hari ini, tugas memahami perkara-perkara ini dan memperbetulkan salah faham terhadapnya bukan lagi menjadi tanggungjawan orang-orang di bidang Syariah Islam sahaja, bahkan tugas semua mereka yang berada dalam pengajian Islam khasnya dan umat Islam yang lain amnya. Ini kerana, hari ini perjuangan memperbetulkan masalah ini bukan lagi dengan kritikan kepada kelompok Islam Liberal ini sahaja, namun ianya memerlukan hujjah-hujjah berdasarkan ilmu yang merangkumi gabungan dalil Naqli ( Al-Qur’an & Sunnah ) juga sedikit dalil Aqli ( akal / rasional ) bagi menghadapi mereka.


Setidak-tidaknya, bab-bab inilah yang perlu diberi penekanan oleh para pensyarah-pensyarah pengajian Islam dikampus, mahasiswa Islam, ustaz-ustaz yang sering menyampaikan pengajian-pengajian di masjid dan seumpamanya. Cukuplah menjadikan masalah-masalah khilafiah atau furu’ sebagai bahan perbahasan dalam keadaan aulawiyah ( keutamaan ) yang lebih besar berada dihadapan kita. Wallahua’lam.


Maka, sewajarnya kita berusaha mendalami ilmu-ilmu ini, memahami mengapa pensyariatan ini dibenarkan, apa yang diragui oleh golongan ini dan apa hujjah bagi menghadapi mereka yang sering mewar-warkan sebagai pejuang hak asasi manusia atau hak asasi wanita seolah-olah kedatangan Islam menyekat hak-hak manusia khasnya wanita. Lupakah mereka bagaimana keadaan wanita sebelum kedatangan Islam? Ayuh ! terus melangkah..jangan sampai Islam dirosakkan oleh golongan rasionalis ini. Selamatkan Ummah dan Selamatkan Mereka.


Foto orang-orang utama SIS : Kanan – Anis Tun Husein Onn, Marina Mahathir, Nori Abdullah dan Zainah Anwar ( belakang ).

Sabtu, 9 Mei 2009

Bertemu penulis buku 'Mereka Adalah Teroris'..

Alhamdulillah, keinginan saya selama ini untuk bertemu dan menatap wajah Al-Fadhil Ust Muhammad Luqman Ba’abduh akhirnya tercapai. Walaupun tidak bertemu dan berbicara, cukuplah saya dapat mendengar perbicaraannya sahaja melalui sebuah program kajian Ilmu yang sering dilakukan di Masjid Al-Makmur, Banda Aceh atau lebih mesra dengan panggilan Masjid Oman kerana dibina dengan dana kerajaan Oman yang disampaikan pada pasca Tsunami.


Ust Luqman diundang dari Jakarta untuk menyampaikan pengisian mengenai problematika ummah dan sejauhmana Islam dijadikan jalan penyelesaiannya. Beliau hadir berdua, bersama temannya yang juga salah seorang yang diamanahkan untuk menyampaikan pengisian. Program yang bermula pagi tadi akan disambung pula selepas Asar, Maghrib dan Isya’. Jama’ah yang hadir lebih kurang seribu orang termasuk beberapa muslimat dan anak-anak kecil.


Sangat menarik penampilan mereka. Hampir semuanya berkopiah putih, berjubah putih separas betis dan berseluar atau kain sarung juga separas betis. Wajah-wajah kelihatan gah dengan janggut dan berjambang kemas dan rapi. Kata sahabat saya “ akhi, inilah orang-orang Salafi di Indonesia”. Jika mahu mengenal ‘geng-geng jihad’ , lain pula penampilannya. Seluar dan jubah mereka begitu juga, tetapi topi Afghan yang sering dipakai oleh Sheikh Abdullah Azzam sering diatas kepala dengan rambut yang agak panjang yang disisir rapi. Biasanya, mereka ini orang-orang Majlis Mujahidin Indonesia ( MMI ). Begitulah pula dengan ‘firqah-firqah’ lain di Indonesia. Bagaimana hubungan sesame mereka, wallahua’lam. Yang pasti, sering bentrok ( berbalah ).


Saya agak enak mendengar pengisian dari Al-Fadhil Ust kali ini. Manakan tidak, penampilannya sahaja sudah menarik perhatian dan minat saya. Berjubah putih separas lutut, berkopiah dan berjambang kemas persis Sheikh Abdurrahman As-Sudais. Bahasanya sangat lembut, benar-benar memikat hati pendengar tidak sebagaimana dalam tulisan-tulisan beliau dibuku yang bertebar diseluruh Indonesia.


Dahulu, ketika Imam Samudra ( As-Syahid, InsyaAllah ) berada dibalik jeruji besi di Nusakambangan, beliau mengarang sebuah buku bertajuk ‘Aku Melawan Teroris’ guna untuk menjawab tuduhan-tuduhan berat yang dilemparkan oleh kuffar serta umat Islam yang kurang jelas mengenai pendiriannya terhadap Bom Bali. Kurang dari setahun, bukunya itu dibantah keras oleh Al-Fadhil Ust Luqman Ba’abduh ini dengan mengeluarkan buku bertajuk ‘Mereka Adalah Teroris’ yang isinya penuh dengan krtikan, cacian dan dakwaan-dakwaan yang sangat dahsyat kepada Imam Samudra serta 2 saudaranya, Amrozi dan Mukhlas ( Ali Ghufran ). Sangat menyedihkan..Sheikh Usamah bin Laden, Aiman Al-Zawahiri, Sheikh Ahmad Yasin, Rantisi, Hasan Al-Banna, Syed Quthb, Muhammad Quthb, Sheikh Safar Hawali, Aidh Al-Qarni, Dr.Salman Audah, Abdullah Azzam, Ikhwan Muslimin dan pelbagai gerakan Islam dibantai oleh beliau dalam tulisannya itu.


Semua tokoh-tokoh jihad ini, dilabelnya sebagai teroris, khawarij dan neo-khawarij, bughah ( penderhaka kerajaan Islam ), tersesat dari manhaj Ahlus Sunnah, anjing-anjing neraka dan…Na’uzubillah. Pembaca bisa merujuk artikel saya terdahulu di http://arruhuljadid86.blogspot.com/2008/11/berikut-adalah-kenyataan-dan-dakwaan.html


Impaknya, muncul pula Al-Fadhil Ust Abduh Zulfidar Akaha membantah bukunya dengan menerbitkan pula buku berjudul ‘Siapa Teroris Siapa Khawarij? . Walaupun beliau bukanlah ‘firqah Imam Samudra’ , namun atas penulisan yang sangat keras dari Ust Luqman, beliau bangkit juga untuk menjawabnya. Bukunya dibedah melalui program anjuran Majlis Mujahidin Indonesia yang dibuat di Masjid Al-Istiqlal, Jakarta sebelum Imam Samudra dihukum mati.


Di Indonesia, golongan Salafi seperti Ust Luqman Ba’abduh ini dikenali dengan gelaran ‘Salafi Yamani’ kerana Masyayikh mereka adalah Sheikh Muqbil yang tinggal di Yaman. Namun, saya yakin Sheikh Muqbil sendiri tidak sekeras itu untuk menulis buku menghukum para mujahid ini sebagai teroris dan khawarij. Maka, tidak hairanlah sikap mereka ini ditegur sekali lagi oleh Ust Abduh Zulfidar Akaha dengan menulis buku bertajuk ‘Belajar Akhlak Ustaz Salafi’ yang isinya sarat dengan teguran-teguran terhadap golongan mereka ini.


Hari ini, saya benar-benar terpegun dengan kelembutannya. Subhanallah. Selesai sesi pertama pagi tadi, para hadirin berebut-rebut bersalam dengannya. Antara yang saya masih ingat , kata Ust Luqman tadi “ kita wajib bersabar dibawah pemerintah yang zalim kerana jika kita bangkit memberontak, maka mudaratnya lebih besar..lihatlah apa yang berlaku di Somalia apabila umat Islam kurang kesabarannya..mereka tumbangkan pemerintah..akhirnya naik yang lain..dalam tempoh itu jumlah korban lebih besar dari zaman pemerintah sebelumnya..puncanya..tidak sabar…dahulu ditempat kita ( Indonesia ) juga begitu..turunkan pemerintah yang dianggap zalim ( Suharto )..akhirnya naik yang lain…kezaliman lebih besar….”


Saya seakan-akan boleh menerima kenyataan ini. Namun, apabila membuat perbandingan wajib mentaati pemerintah yang zalim sekalipun dan bersabar dengan kezalimannya kerana memikirkan maslahah yang lebih besar, dibandingkan dengan kondisi umat Islam dizaman khalifah-khalifah dahulu, saya agak kurang senang menerimanya. Manakan tidak, pemerintah dizaman kekuasaan Islam dahulu, rakyat bersabar dengan kezaliman mereka seperti Hajjaj bin Yusuf As-Saqafi dan lain-lain, tetapi dalam keadaan mereka melaksanakan syariat Allah. Namun, pemerintah hari ini tidak melaksanakan syariat Allah…Ya, saya juga masih kekurangan ilmu..tetapi, saya akan terus mempelajarinya..insyaAllah.


Selain itu, Ust Luqman juga mengkritik sikap aktivis-aktivis yang katanya menggunakan masjid dan minbar-minbar untuk mengkrtik pemerintah. “ Ini akan menambakan mudarat yang lebih besar apabila krtikan dan provokasi begitu disampaikan dihadapan orang awam yang tidak mengetahui kaedah-kaedah kepimpinan ini..maka, bersabarlah dan berdoalah agar pemerintah-pemerintah ini diberi hidayah oleh Allah..yang penting laksanakan syariat Islam dalam diri kita, keluarga kita dahulu sebelum kita mahu bicara soal syariat dalam Negara…” katanya.


Sesi selepas Asar, Maghrib dan Isya’ tidak sempat saya sertai..

Jumaat, 8 Mei 2009

Surat Untuk Menteri Agama..

Berikut adalah surat terbuka daripada Al-Fadhil Ust Dato’ Tuan Ibrahim bin Tuan Man ( Pesuhjaya PAS Negeri Pahang / Ajk Pas Pusat ) yang disampaikan kepada sahabat lamanya dikampus dahulu iaitu Mej. Jenderal. (B) Jamil Khair Baharom yang kini dilantik sebagai Menteri di Jabatan Perdana Menteri ( Menteri Agama ) didalam Kabinet Dato’ Seri Najib Tun Razak :


SURAT TERBUKA BUAT JAMIL KHAIR BAHAROM.

Assalamualaikum wrh wbt.

Kepada sahabat lama Jamil Khair Baharom,

Semoga Allah mem
berkati mu, walau lama kita tak bersua. Semoga Allah melimpah belas kasihannya ke atasmu.

Terlebih dahulu Aku merakamkan ucapan takziah di atas bebanan yang sedang engkau pikul, kerana engkau tida
k lebih baik dari Imam Ahmad yang menolak perlantikan sebagai Mufti, kerana itu bermakna ia meredai kezaliman khalifah. Tetapi engkau juga tidak sekejam Hajjah bin Yusuf al-Thaqafi yang bertindak membelakangkan hukum Allah bagi menunjukkan kekuasaan yang ada.

Tetapi jauh lebih mem
bimbangkan aku terhadapmu ialah engkau akan ‘terpaksa’ menentang Jamaah Islam, engkau akan menentang Parti Islam. Kami tahu kami bukanlah yang terbaik, tetapi aku lebih bimbang bilamana kamu menganggap UMNO lebih baik. Engkau akan terpaksa meredai kemungkaran yang diizinkan pemerentah dan membenarkan kezaliman ISA dan lainnya. Aku tahu engkau tidak kuat menahan kemurkaan Allah di akhirat seandainya Ia murka. Aku memohon perlindungan dariNya untuk aku dan kamu.

Lantaran itu, kumpullah mereka yang takutkan Allah, satulah kekuatan bagi menentang kezaliman , tegaklah makruf dan tetanglah kemungkaran dari dalaman UMNO yang kamu mampu; tetapi akhirnya kamu akan kecewa. Kerana kamu dilengkungi oleh bukan ahlinya.

Sekian, ingatan sahabat sementara hidup, kerana tiada pesanan diakhrat.

Wassalam.

Sahabat Lama;
Tuan Ibrahim Tuan Man.

Dicopy dari blog Sdr.Basiron Abdul Wahab ( wartawan Harakah Pahang )

http://darigaunghati.blogspot.com/