Isnin, 22 Disember 2008

Kenapa Kepala Aku Bergoyang ?

“Kenapa kepala aku tiba-tiba bergoyang?, “saya tertanya-tanya. Tak kan laptop dihadapan ni lama sangat buka sampai panas, kepala pun bergoyang? Letih sangat ke hari ni? Macam kena tiup angin je kepala. Angin sepoi-sepoi bahasa..Tapi, badan sampai ke bawah tak pula bergoyang. 05 saat lebih kurang dirasai fenomena aneh tersebut. Sekitar jam 08.50 malam( waktu Acheh).

Tiba-tiba Aizam yang duduk dibilik sebelah di rumah sewa ini keluar bilik dan terus meluru bertanya, “anta tak rasa bergoyang ke? Saya jawab, “rasalah…”Aikk..kenapa ni? Kawan-kawan yang berdiri semua tak rasa kecuali yang duduk sahaja.

Seketika, Syam yang sedang menghadap TV pula datang. “Ishh..badan ana rasa bergoyanglah. Air dalam bekas (water cooler) tepi TV yang biasa kami minum pun bergoyang. Hahaha..rumah kita berhantu..Pendek cerita..ada seorang teman rumah sewa baru pulang dari rumah sewa pelajar Malaysia yang lain terus bertanya,” kat sini tak rasa bergegagr ke tadi? Ana duk rumah sewa sana tadi rasa bergegar. Ada hok tengah tidur, terjaga. Badan bergegar.” cerita dia pada kami.

Jam 11.15 pagi tadi, kami pun buka laman web Berita Harian. Barulah ku tahu apa yang terjadi.

“Isnin 22 Disember 2008

Gempa 5.6 skala Richter landa Banda Acheh

JAKARTA: Gempa berukuran 5.6 skala Richter melanda Bandar Acheh di barat daya Sumatera, malam tadi, tetapi tiada laporan segera mengenai kerosakan yang mangsa yang terbabit. Agensi Penyelidikan Gelogi Amerika Syarikat melaporkan, gempa berlaku jam 8.47 malam (1347 GMT), di 75 kilometer barat daya Banda Aceh. Pusat Amaran Tsunami Pasifik, di Hawaii bagaimanapun tidak mengeluarkan amaran mengenai bahaya tsunami di wilayah berkenaan. – AFP”

http://www.bharian.com.my/Current_News/BH/Monday/Mutakhir/20081222085127/Article/index_html

“Ya Allah, selamatkan kami. Mohon tiada lagi Tsunami ke-2. Fobia dengar 26 Dis…

Sabtu, 20 Disember 2008

Lia Eden: Pemimpin Kerajaan Tuhan Indonesia ?

Isnin 15 Dis lalu, hampir kesemua akhbar dan website Indonesia memaparkan berita penangkapan kali ke dua pihak berkuasa Indonesia ke atas Lia Eden atas dakwaan penodaan agama. Lia Eden seorang wanita berumur 61 tahun pernah ditahan selama 22 bulan dan keluar pada 29 Okt 2007 setelah beliau mendakwa dirinya adalah isteri kepada Jibril (baca: Syaitan) yang sering menemuinya untuk memberi wahyu.Untuk kali ini, beliau ditahan bersama 28 pengikutnya atas dakwaan menyebarkan sebaran setebal 40 halaman berupa seruan agar dihapuskan semua agama khasnya Islam.

Lia mengaku arahan penghapusan itu datang dari Tuhan kepadanya secara berkala dan beliau turut menerima ‘wahyu’ bahawa pemerintahan Susilo dan Jusuf Kalla tidak layak memimpin lagi.

Siapakah Lia Eden ?

Nama asalnya ialah Syamsuriati. Anak kelahiran Surabaya tanggal 21 Ogos 1947 ini telah menubuhkan agama baru yang dikenali sebagai Salamullah dan mengetuai Kerajaan Tuhan Eden. Kini Lia Eden, mempunyai sebuah kerajaan syurga di Jalan Mahoni 30, Senen, Jakarta. Pengikutnya digelar Kaum Eden. ( Eden adalah disandar kepada nama syurga ‘Adn yang dicipta oleh Lia ).

Apa pengakuan dan dakwaannya ?

Pada tahun 1974, beliau mendakwa telah melihat sebuah bola berwarna bercahaya kuning berputar di udara dan lenyap sewaktu baru sahaja berada diatas kepalanya. Pada 27 Okt 1995, beliau mengaku ketika sedang solat, beliau merasai kehadiran pembimbing rohaninya, Habib Al-Huda yang mengaku dirinya Jibril. Sejak 1997, beliau mengaku menerima bimbingan Jibril sampai sekarang.

Beliau telah melantik Abdul Rahman seorang alumni dari Faklutas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta menjadi Imam Besar kepada Kerajaan Tuhan Eden. Awalnya beliau dilantik menjadi Imam Mahdi, namun sekarang Abdul Rahman dianggap oleh Lia Eden sebagai reinkarnasi (jelmaan) Nabi Muhammad. Nabi palsu Abdul Rahman ini turut dipenjara selama 3 tahun oleh mahkamah Agung, 09 Nov 07 lalu.

Siapa pembela dan pendokongnya ?

Sebagaimana perkara kebenaran mempunyai penyokong dan pendokong, maka tidak ketinggalan kebatilan juga ada penyokong dan pendokongnya. Berikut tokoh-tokoh utama yang menjadi simpatisan mereka :

1) Sejumlah mahasiswa IAIN Jakarta berdemo dihadapan Polda Metro Jaya (kantor polis) ketika Lia Eden ditahan pada Januari 2006.

2) Lia Eden mengaku sering berkonsultasi dengan Rektor UIN Jakarta, Kamarudin Hidayat jika Lia ada masalah dan Lia juga pernah membuat puisi khas untuk Komarudin Hidayat dan disebut puisi itu adalah wahyu Jibril.

3) Komarudin Hidayat ketika kuliah di Turki menyepakati reinkarnasi (jelmaan) Anand Krisna (menyatu dengan Tuhan) dan diaminkan oleh Lia Eden. Buku Islam Esoteris: Kemuliaan dan Keindahannya karangan Anand Krisna diberi kata pengantar oleh Komarudin Hidayat, Rektor UIN Jakarta.

4) Komarudin Hidayat juga memberi hutang kepada Lia Eden untuk sebarkan kesesatannya dan dibelakang, beliau membela pula (kerana berkali-kali mendapat pujian dari wahyu Lia sejak 2006 ).

Dipetik dari buku: Nabi-Nabi Palsu & Para Penyesat Umat – Ust Hartono Ahmad Jaiz.

Untuk mendapatkan maklumat lanjut tentang Lia Eden, wahyu-wahyu yang diterimanya dari Jibril ( baca: Syaitan ), ramalan-ramalan beliau tentang kejadian-kejadian yang akan menimpa Indonesia dan lain-lain, anda boleh layari website Lia Eden di http://www.liaeden.info/indonesia/index.php

Untuk membaca fatwa-fatwa daripada Majlis Ulama’ Indonesia tentang ajaran sesat-ajaran sesat di Indonesia termasuk ajaran Anand Krisna, Lia Eden dan lain-lain, anda boleh layari website http://swaramuslim.net/galery/sekte/index.php

Maklumat lanjut tentang Lia Eden, boleh dilayari di http://id.wikipedia.org/wiki/Lia_Eden atau http://ms.wikipedia.org/wiki/Lia_Eden atau www.arrahmah.com .

Mungkin Lia Eden elok kahwin dengan Ayah Pin. Lia Eden ada Kerajaan Tuhan, Ayah Pin ada Kerajaan Langit.:)

Gambar kecil: Rektor UIN Jakarta.

Rabu, 17 Disember 2008

Batal Mou Al-Azhar: Lihatlah apa yang berlaku...

Dipetik dari http://www.detik.com/ - laman web Indonesia.

Berita : 1

Senin, 15/12/2008 19:26 WIB


Laporan dari Kuala Lumpur
Ingin Studi ke Al Azhar, 49 Mahasiswa RI Terlantar di Malaysia

Kuala Lumpur - Hasrat menuntut ilmu menggebu-gebu ke Timur Tengah, tapi malah terkatung-katung tanpa kepastian di negeri orang. Inilah kisah menyedihkan sekitar 49 calon mahasiswa asal berbagai daerah di Indonesia. Berencana mengais ilmu ke Universitas Al Azhar Mesir, tapi mereka malah terkatung-katung di Malaysia.

Para calon mahasiswa tersebut tertipu oleh agen pendidikan PT Fikruna Center, pimpinan seorang ustaz berinisial IJ di Jakarta. Agen pendidikan luar negeri yang beralamat di Gedung Graha Satria Lt. 5 Jalan Fatmawati Jakarta Selatan ini menjanjikan kepada mereka untuk dapat melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir.

Salah seorang calon mahasiswa, Lukman Hamdani (20) mengaku sudah mengeluarkan uang cukup banyak kepada agen pendidikan gadungan tersebut. "Saya sudah membayar uang Rp 12 juta ke rekening Fikruna Center. Mereka menjanjikan bisa membantu kami untuk studi di Al Azhar, Kairo Mesir," kata Lukman saat melaporkan penipuan tersebut kepada Atase Pendidikan Imran Hanafi dan staf SLO (Senior Liason Officer) Polri Kiki di KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (15/12/2008).

Lukman datang bersama seorang kawannya yang juga menjadi korban, Maulana (20), serta didampingi juga oleh Ketua PPI Malaysia Irfan Syauqi Beik dan Sekjen PPI Malaysia Samheri. Lukman menceritakan, setelah mengikuti tes di Jakarta, para calon mahasiswa itu lalu dikirim Fikruna ke Malaysia untuk menjalani persiapan lanjutan sebelum studi ke Mesir. Di Malaysia, mereka diinapkan di Madiwa (Ma'had Al'Aaly Liddirosah Al Islamiyah Wal 'Arabiyah) di Perak.

"Tapi selama di sana, kami cuma belajar saja di surau. Tidak ada pendidikan formal dan kami tidak dapat kepastian. Selain itu, kami cuma makan, minum dan tidur," ungkap Lukman. 49 Calon mahasiswa tersebut berasal dari daerah yang berlainan dan gelombang rekrutmen yang berbeda. Namun sebagian besar dari mereka sudah terkatung-katung di Malaysia selama setahun.

Lukman dan Maulana diberangkatkan Fikruna pada 10 September 2007 dan dijanjikan berangkat ke Mesir antara September-Oktober 2008. "Tapi sampai sekarang kami masih di sini tanpa kejelasan. Sebagian kawan-kawan juga sudah ada yang balik lagi ke Indonesia karena mereka tidak tahan," imbuh pemuda asal Bekasi tersebut.

Menurut dia, sejak diinapkan di Madiwa, para calon mahasiswa itu terpencar. Bahkan sebagian besar mereka terpaksa mencari kerja untuk menutupi persediaan uang mereka yang menipis.

"Saya tidak tahu jumlahnya sekarang. Tapi yang saya kenal, yang masih ada di sini sekitar 15 orang saja. Tapi mereka berpencar semua. Tidak bisa balik, ya terpaksa cari kerja untuk bisa kumpul uang dan kuliah. Ada yang jaga kedai, cuci piring, pelayan restoran," ungkapnya. Bahkan, Maulana juga mengungkapkan, mereka diharuskan menyetorkan lagi uang sebesar RM 2.750 (sekitar Rp 9 juta) untuk Madiwa dan Aiport Tax.

"Setelah sampai di sini, kami dapat informasi kalau Fikruna berlepas tangan dan diserahkan kepada Madiwa," kata Maulana.

Maulana juga mengungkapkan, cara Fikruna menipu calon mahasiswa tersebut dengan menyebarkan brosur tentang kemudahan kuliah di Universitas Al Azhar Mesir kepada calon mahasiswa yang gagal mengikuti ujian di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Mereka terobsesi dengan iming-imingan Fikruna yang mengatakan telah berhasil memberangkatkan calon mahasiswa sebelumnya ke Mesir.

Atase Pendidikan Imran justru heran jika ada lembaga pendidikan swasta yang membuat perjanjian dengan Universitas Al Azhar Mesir. Namun Imran berjanji membantu para calon mahasiswa tersebut. "Sebab setahu saya, yang ada adalah kesepakatan antara pemerintah RI dengan Universitas Al Azhar bahwa calon mahasiswa yang ingin studi di sana harus melalui tes di Departemen Agama. Tidak ada harus transit di Malaysia dulu," jelasnya.

Ketua PPI Malaysia Irfan Syauqi Beik meminta agar pemerintah mengusut tuntas kasus tersebut. "Apalagi ada indikasi jaringan penipuan yang sistematis. Jangan sampai ada korban lagi," cetus dia.
(rmd/asy)

Berita: 2

Selasa, 16/12/2008 19:13 WIB


PT Fikruna Bantah Telantarkan Calon Mahasiswa Al Azhar

Jakarta - PT Fikruna Center membantah telah melakukan penipuan dan menelantarkan sejumlah siswa asal Indonesia yang hendak studi ke Mesir di Malaysia. Perusahaan tersebut mengklaim telah melakukan prosedur berdasarkan MoU dengan pihak Madiwa (Ma'had Al'Aaly Liddirosah Al Islamiyah Wal 'Arabiyah) untuk mengirimkan siswa ke Universitas Al Azhar.

"Banyak yang tidak benar dalam pemberitaan media. Soal penipuan, kami tidak melakukan penipuan. Ada MoU antara Fikruna dengan Madiwa," ujar Mantan Direktur PT Fikruna Center Imam Jazuli kepada detikcom, Selasa (16/12/2008).

Imam mengungkapkan, dalam kesepakatan tersebut, PT Fikruna hanya bertugas mengirimkan siswa Indonesia ke Madiwa di Malaysia. Selanjutnya di negeri Petronas tersebut, tambah Imam, Madiwa yang bertanggung jawab terhadap para siswa tersebut.
Selama di Madiwa, menurut dia, para siswa tersebut akan mendapatkan training dan persiapan studi dengan mengikuti perkuliahan formal selama satu tahun.

"Di sana ada fakultas Syariah dan Ushuluddin. Jadi mereka tidak hanya makan tidur, tapi juga belajar. Meski secara fasilitas tidak sekualitas universitas," jelas dia. Dalam rilis yang diterima detikcom, Imam juga menjelaskan, niat pendirian PT Fikruna Center adalah untuk memfasilitasi siswa yang tidak lulus dalam tes seleksi ke Universitas Al Azhar melalui Departemen Agama.

"Sebagai lembaga yang juga mengirim langsung siswa ke Al Azhar merasa prihatin mengingat banyak siswa yang memiliki potensi dan motivasi yang tinggi tapi tidak dapat melanjutkan studi ke Al Azhar karena tidak lulus ujian seleksi, padahal dari beberapa siswa yang tidak lulus dikarenakan juga tidak mengetahui model dan metode ujian Depag. Karena itulah kami memiliki ide untuk mengadakan twining dengan Madiwa," cetus Imam.

Menurut Imam, Madiwa memiliki MoU dengan Universitas Al Azhar sudah sejak lama. Siswa yang telah lulus diploma 2 di Madiwa, lanjut dia, dapat langsung masuk Universitas Al Azhar tingkat 3 dan diploma 3 langsung masuk tingkat 4.

Pengiriman siswa oleh PT Fikruna ke Madiwa, kata dia, dimulai sejak 5 September 2006 dengan jumlah 24 siswa. Pengiriman kedua dilakukan pada 10 September 2007 sebanyak 24 siswa. Dari 24 siswa itu 18 siswa di antaranya sudah diberangkatkan ke Mesir dan diterima di Universitas Al Azhar tingkat 3 (untuk laki-laki) dan tingkat 2 (untuk perempuan). "Jadi yang kami lakukan sudah benar sesuai MoU. Kami tidak melakukan penipuan," pungkas Imam. (rmd/asy)

Berita: 3

Selasa, 16/12/2008 22:33 WIB


PT Fikruna: Mahasiswa Terlantar karena Kebijakan Pemerintah

Kuala Lumpur - 49 Siswa yang hendak studi ke Universitas Al Azhar disebut-sebut terkatung-katung di Malaysia. Sebagai agen, PT Fikruna Center beralasan hal itu disebabkan perubahan kebijakan pemerintah, baik Indonesia maupun
Malaysia.

"Kebijakan pemerintah Indonesia dan perubahan situasi politik di Malaysia yang sangat mempengaruhi," ujar mantan Direktur PT Fikruna Center Imam Jazuli dalam rilis kepada detikcom, Selasa (16/12/2008).Imam menjelaskan, pada April 2008 diadakan Workhop di mesir oleh pihak KBRI Kairo dan Departemen Agama bekerjasama dengan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir. Hasil workshop tersebut salah satunya rekomendasi penghentian pengiriman pelajar ke Universitas Al Azhar melalui Malaysia.

Bersamaan dengan itu, Imam melanjutkan, pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan muadalah (persamaan) terhadap 18 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) se-malaysia dengan Universitas Al Azhar. Dengan kebijakan tersebut, STAI-STAI di Malaysia tidak boleh lagi mengirim siswa ke Universitas Al Azhar. Pengiriman hanya berlaku terhadap PT-PT dibawah pemerintah.

"Akibatnya, kerjasama yang selama ini terbangun antara Universitas Al Azhar dengan ma'had-ma'had atau STAI-STAI di sana terputus. Termasuk kerjasama Madiwa dengan Al Azhar. Jadi posisi kami terjepit, sedangkan kami sudah mengirimkan siswa. Tidak mungkin tarik lagi," ungkapnya.

Bahkan master jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia ini menduga, kebijakan pemerintah negeri jiran tersebut terkait karena partai pemerintah merasa gerah disebabkan alumnus STAI Malaysia yang melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar banyak yang berpihak ke partai oposisi saat mereka pulang ke Malaysia.

Imam juga mengatakan, setelah kebijakan tersebut keluar, Madiwa terus mengusahakan melobi pihak Universitas Al Azhar. "Tapi gagal dan Madiwa
sudah menginformasikan ke siswa-siswa tanggal 23 September 2008 kalau upaya yang dilakukan untuk melobi Al Azhar gagal. Dari sinilah terjadi kegelisahan dan kesimpang siuran,"ungkapnya. Oleh sebab itu, kata Imam, Madiwa memberikan alternatif bagi siswa bisa melanjutkan ke UIN Riau dan KUIS (Kolej Universitas Islam Antarabangsa Selangor) Malayasia.

Sedangkan Fikruna memberikan solusi dengan membantu mereka pindah studi ke universitas-universitas Islam di Indonesia seperti Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Islam Nusantara (Uninus), "Sekarang ini ada 20-an lebih siswa tersebut telah melanjutkan studi di universitas di Indonesia. Sisanya masih ada 15 siswa lagi di Malaysia dengan harapan tahun depan mereka dapat melanjutkan studi ke Saudi Arabia sesuai yang dijanjikan pihak Madiwa," pungkas Imam.(rmd/ndr)

Selasa, 16 Disember 2008

Kenali Nanggroe Acheh Darussalam (Siri 02)

Tanggal 02 Nov 2008 yang lalu, saya telah mengenalkan kepada teman-teman semua tentang tempat bersejarah di Acheh iaitu Makam Sultan Iskandar Muda. (rujuk Arkib November). Untuk kali ini, dalam ruangan Kenali Nanggroe Acheh Darussalam, kita akan mengenali pula salah satu tempat menarik di Acheh iaitu Yayasan Makam Syiah Kuala ( YAMSIKA).


Yayasan Makam Syiah Kuala ( YAMSIKA)


Yayasan Makam Syiah Kuala (YAMSIKA) yang terletak sekitar 10 minit sahaja dari Bandar Acheh iaitu di Desa Dayah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. Disinilah letaknya makam Sheikh Abdul Rauf bin Ali Al-Fansuri As-Singkili. Beliau dikenali oleh masyarakat Acheh dengan gelaran Syiah Kuala. Ulama’ yang sinonim dengan masyarakat Acheh ini dilahirkan pada tahun 1591 M dan meninggal dunia pada tahun 1696 M (23 Syawal 1106) ketika berusia 105 tahun. Jenazahnya dikebumikan di tempat ini iaitu Gampong Menasah Dayah Kuala Acheh (nama lama) sesuai permintaannya.


Ketika masih hidup, Sheikh Abdul Rauf pernah menjadi Kadhi Malikul Adil pada zaman pemerintahan kerajaan Acheh Darussalam dipegang oleh para Ratu :

1) Ratu Sapiatuddin Syah 1641-1675 Masihi.

2) Ratu Nakiatuddin Syah 1675-1678 Masihi.

3) Ratu Zakiatuddin Syah 1678-1688 Masihi.

4) Ratu Kamalat Syah 1688-1699 Masihi.

Diatas catatan di hadapan Yayasan ini juga menyatakan bahawa, pada zaman pemerintahan ratu-ratu ini, hakikatnya yang memegang kendali pemerintahan ialah para ulama’ termasuk Sheikh Abdul Rauf. Khadam yang menjaga makam ini tidak boleh berpindah tangan dari keturunan Sheikh Abdul Wahid. Kini nama Al-Marhum Sheikh Abdul Rauf (Syiah Kuala) diabadikan disebuah institusi pengajian tinggi di Acheh iaitu Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH).


Selain makam Sheikh Abdul Rauf, terdapat banyak sekali makam-makam lain yang dikatakan sebagai kerabat Al-Marhum dan penduduk sekitar yang berasal di kampung ini. Kuasa Allah s.w.t mengejutkan seluruh rakyat Acheh dan dunia amnya kerana saat musibah Tsunami berlaku tanggal 26 Disember 2004, makam Sheikh Abdul Rauf tidak terjejas dan tenggelam sedikitpun saat makam-makam lain disekelilingnya ditenggelami air. Padahal kedudukan kesemua makam ini hanya 150 meter dari laut. Maklumat yang diterima menyatakan, sebelum musibah Tsunami, perbuatan khurafat sering dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab di makam ulama’ ini.


Dihadapan pintu masuk , terdapat papan tanda peraturan memasuki Yayasan ini seperti larangan mendedahkan aurat, memakai pakaian menyerupai lelaki bagi perempuan, memakai pakain menyerupai perempuan bagi lelaki, larangan bagi non-Muhrim, berseluar pendek, larangan mencium atau memeluk batu nisan, merokok, mengambil batu-batu kerikil atau tanah kuburan dan lain-lain.


Lebih 40 buah makam terletak dibawah bumbung Yayasan Makam Syiah Kuala (YAMSIKA) dan berpuluh-puluh lagi sekitarnya. Kesan-kesan runtuhan bangunan yang hanya tinggal lantai-lantai sahaja masih terdapat di kawasan makam-makam ini yang musnah dalam tragedy 26 Disember.

Dihadapan YAMSIKA terbentang luas laut yang sangat indah, yang pernah meragut ratusan ribu nyawa umat Islam di Acheh tahun 2004 yang lalu. Pulau Sabang yang sayup kelihatan dari jauh. Jika menaiki bot biasa untuk sampai ke pulau tersebut, masanya hanya sekitar 2 jam. Sekiranya menggunakan bot laju, 45 minit sudah boleh sampai ke pulau yang ada penduduk tersebut. Airnya yang sangat jernih menggamit kedatangan anda. Pulau inilah yang pernah menjadi benteng kerjaan Negeri Melaka satu ketika dahulu.


( Ejaan Syiah, namun bacaannya ialah Syiyah. Ketika kami sampai dulu tersilap juga kerana mengingatkan Syiah di Iran :) Rupa-rupanya ejaan Syiyah ialah Syiah dan Syiah (mazhab) itu dieja Shi’ah. Tetapi ada kemungkinan memang ada unsur-unsur Syiah (mazhab) itu kerana mengikut pandangan beberapa individu disini, ketika zaman Sheikh Nuruddin Ar-Raniry ,berlaku pertembungan antara beliau dengan Sheikh Abdul Rauf yang dikaitkan dengan penyebaran Syiah. Wallahua’lam )


Siapakah Sheikh Nuruddin Ar-Raniry ?


Beliau adalah seorang ulama ‘ besar dan Mufti Kerajaan Acheh Darussalam yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani ( II) iaitu selepas Sultan Iskandar Muda. Pemerintahan Sultan Iskandar Tsani bermula pada tahun 1637-1641 dan saat itulah Sheikh Nuruddin menjadi mufti Acheh.


Sheikh Nuruddin Ar-Raniry berasal dari Ranir (sekarang Rander) di India dan telah memberikan sumbangan besar dan meramaikan bursa percaturan pemikiran Islam di Nusantara pada umumnya dan Acheh khsusunya. Kini nama Sheikh Nuruddin diabadikan kepada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Acheh.


Klik di atas gambar untuk dibesarkan.


Makluman: Jika ada yang mengetahui adanya kesalahan dalam sejarah ini, mohon dimaklumkan. Sejarah Sheikh Abdul Rauf diambil dari catatan dihadapan Yayasan Makam Syiah Kuala dan sejarah Sheikh Nuruddin diambil dari buku Panduan Program S1 dan D3 IAIN Ar-Raniry.